Sabtu, 19 Oktober 2013

Fireflies In Manhattan Kisah Proses Kreatif Para Penulis Indonesia Selama di Amerika Oleh : Fanny J. Poyk

Fireflies In Manhattan
Kisah Proses Kreatif Para Penulis Indonesia Selama di Amerika

Oleh : Fanny J. Poyk

Nuansa Amerika sedikit terasa ketika Talk Show & Reading Literary Gems with a Selection of Legendary Indonesian Authors yang berlangsung di Pacific Place, Jakarta, tepatnya di @America pada 18 September 2013 malam. Pemeriksaan superketat dengan metal detektor disertai dengan penitipan tas pada box-box yang sudah disediakan, mencerminkan ‘rasa’ Amerika kian terasa, terroris dan segala macam ancaman yang membahayakan yang selama ini ditakutkan, memang diantisipasi secara sistematis. Pembicara malam itu adalah Bondan Winarno, Goenawan Mohamad, Toeti Heraty dan Yus Kayam (isteri sastrawan Umar Kayam).

Selain untuk mengenang kembali kiprah Umar Kayam di dunia sastra melalui memori yang disampaikan sang isteri, Yus Kayam, dari judul di atas; yaitu Fireflies in Manhattan juga mengetengahkan beragam kenangan para penulis sekaligus penyair yang pernah tinggal di Amerika, seperti Gerson Poyk, Leon Agusta, dan para pembicara, sekaligus mengisahkan bagaimana proses kreatif mereka dalam menulis selama berada di sana. Forum diskusi yang diselingi dengan pembacaan puisi tentang keindahan kota New York, disampaikan oleh para pembicara. Acara juga diselingi dengan penampilan Khrisna Pabichara yang puisi Subagio Sastrowardoyo (Among Skyscrapers) dan cerpen karya Umar Kayam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, serta tanya jawab dari para peserta.

Keempat pembicara mengisahkan kenangannya tentang New York, Yus kayam misalnya, ia mengaku tidak menulis cerpen, namum sepanjang hidupnya sejak tahun enam puluhan ia menemani sang suami Umar Kayam belajar di sana. New York telah memberikan kesan tersendiri bagi dirinya dan keluarga, anak-anak mereka dilahirkan di sana, dan ia tahu cerpen Umar Kayam, Kunang-Kunang di Manhattan yang legendaris itu merupakan bagian dari kisah yang dipantau sang suami tentang beragam kisah yang terjadi di New York dan Manhattan. “Yang membuat saya sedih saat kami menempati apartemen adalah jika ada pengumuman yang menyatakan tidak boleh ada suara gonggongan anjing dan suara berisik anak kecil,” ujarnya sembari tersenyum.

Penerbang Amerika

Sedangkan Bondan Winarno, mengungkapkan bahwa selama ini dirinya tak pernah dianggap sebagai cerpenis. Ia lebih dikenal sebagai seorang presenter kuliner. Bondan mengaku, meski ia menulis lebih dari 40 cerita pendek dan 10 di antaranya ia tulis selama di Amerika, ia tak pernah diakui sebagai seorang cerpenis. “Karena kecewa, saya lalu menjadi presenter TV, dan lebih dikenal orang,” tawanya. Namun yang menurutnya lebih menarik adalah proses kreatif bagaimana sebuah cerita pendek dilahirkan. Cerpen Bondan yang berjudul John Charles Showered yang dimuat di dalam Manhattan Sonnet, itu sebetulnya bukan fiksi namun kisah sebenarnya. “Saat itu saya menjadi redaktur pelaksana di Majalah Mutiara, saya melihat ada seorang gembel yang sangat bau yang mengaku sebagai penerbang Amerika yang dikirim ke Indonesia, kemudian tertembak di Sumatera. Saya mengetesnya dengan berbahasa Inggris, banyak pertanyaan yang saya ajukan, namun jawabannya tidak meyakinkan. Orang itu menangis dan ingin kembali ke Amerika. Lalu saya membawanya ke Kedutaan Amerika, di sana saya ditertawai oleh sang Konsul Amerika. Setelah diamati diam-diam, ternyata orang itu memang gembel yang memiliki masalah psikologis dan tinggal di Senen. Itulah yang kemudian saya jadikannya cerpen. Hampir semua cerpen saya ada ceritanya. Itu mungkin yang membuat saya tidak dianggap sebagai cerpenis. Banyak kejadian-kejadian di Amerika yang kemudian menjadi cerpen. Contohnya Rudy and Us, Amnesti, Doa Seorang Perawan yang saya buat saat perang di Bosnia.” Terangnya.

Tragedi Sebelas September

Pada kesempatan yang sama Goenawan Mohamad menuturkan, beberapa kali ia ke Amerika ada dua kejadian yang baginya sangat penting, pertama saat ia melihat tembok Berlin diruntuhkan dan orang-orang Berlin Timur bersorak-sorai merayakan kemerdekaan mereka, “saya melihat dari kamar saya di Harvard, saya merasa bahwa dengan runtuhnya tembok itu dunia menjadi lebih baik, ada harapan perdamaian karena ketegangan Uni Soviet dan Amerika menjadi reda. Kiamat seolah-olah dimundurkan, tapi di balik itu semua juga ada rasa bangga orang Amerika bahwa sebetulnya pihak Amerika menang dan Rusia kalah. Saya tidak begitu menyukai kebanggaan ini karena bagi saya yang penting adalah perdamaian, bukan siapa yang menang. Kedua tanggal 11 September, saya ada di New York dalam perjalanan ke Seatle untuk menulis opera yang dipentaskan di sana bersama seorang komponis Indonesia dan Amerika. Di New York kejadian itu terjadi, gedung Twin Towers mula-mula satu diserang, kemudian kedua, saya tidak melihat menit demi menit, namun jika kita melihat di televisi seperti film malapetaka. Berada di sana lebih mengerikan karena kita bisa merasakan bau dari keruntuhan itu. Malam itu bulan September, saya mencoba menjadi reporter dan berjalan menuju ke tempat kejadian, saya berjalan ke Ground zero dan lampu semua mati, saya melihat bagaimana seolah suasana perang terjadi. Tentu saja saya tidak bisa masuk ke dalamnya. Saya melihat bagaimana menara itu runtuh, mengerikan, kemudian saya masuk ke Washington Square, begitu banyak orang yang berdukacita. Ada satu tulisan dan ditempelkan di satu kawat yang katanya dari Nelson Mandela (tapi saya rasa bukan). Katanya, ‘yang menakutkan bukanlah bahwa kita lemah, tapi bahwa kita merasa benar dan merasa kuat.’ Bagi saya itu menyentuh sekali, karena suasana waktu itu tiba-tiba berbalik, solidaritas antar manusia, antar bangsa tiba-tiba menjadi nasionalisme juga kemampuan televisi menyiarkannya dengan judul America under Attack. Orang mengatakan ini Pearl Harbour kedua, namun bagi saya ini tidak benar, sebab serangan 11 September bukan serangan negeri lain, ini juga bukan serangan pertama pada tanah Amerika, karena sebelumnya ada bom di Oklahoma. Nah ini nasionalisme yang ditumpangi dengan banyak propaganda, dan Amerika seolah tidak mengakui ini tragedi bersama, ini tragedi dia, yang menjadi patriotisme yang disertai dengan militerisme. Itu salah satu kesan yang mengerikan. Sejak itu sampai sekarang saya tidak pernah menonton penayangan tragedi itu. Saya tidak anti Amerika, tapi saya tidak bisa menerima, apalagi setelah Amerika menyerbu Irak dengan dalih yang omong kosong.” Ucap Goenawan.

I Love you New York

Di kesempatan yang sama Toeti Heraty menuturkan perasaannya tentang New York tatkala ia menulis puisi-puisinya, New York ia nyatakan dengan satu kata yaitu ‘cinta’, ia melihat beragam kejadian yang terjadi dari hal-hal yang kecil. Kata Toeti, “Hal yang membuat saya mencintai New York pertama-tama memang saya nyatakan love dengan gambar jantung, jadi saya kira untuk visualisasi, tapi dengan begitu seakan-akan visualisasi lebih penting daripada isinya. Dan kalau dilihat isinya itu hal yang sepele tapi menarik, misalnya ada orang jualan kembang, dan tidak boleh ditawar, lalu kita senang membeli bunga itu dengan uang saku yang pas-pasan. Kemudian kita mencari makan, trus makanan yang paling murah adalah makanan China, tapi yang paling menyenangkan sesudah makan ada fortune coccies dan di siitu ada tulisan yang sifatnya ramalan, lalu ada orang masuk di dalam kafe, karena tidak punya uang hanya minta satu gelas air putih saja, ini juga hal yang menarik. Saya pernah naik taksi dan mengeluh baru kecopetan, lalu si sopir bilang, ‘kamu boleh nginep di rumah saya hanya saja kamar mandinya tidak ada pintunya’. Kemudian Saya keluar dari gedung opera dan ada yang menegur saya, are you living miss? Maksud saya ya memang saya pulang sebelum opera berakhir, nah dia minta sobekan karcis supaya dengan sobekan karcis itu dia bisa masuk dan menikmati sisa pertunjukkan. Jadi hal-hal itu yang membuat saya melihat kota New York begitu hidup. Tapi dengan hal-hal kecil yang sepele dan mengesankan bahwa keseluruhannya kita melihat nasib orang yang berbeda-beda. Tentu kita juga melihat dipamerkan segala macam kebiasaan-kebiasaan yang menuju ke porno, itu juga karya yang harus diakui, juga ada museum-museum yang memberikan kesejukan kepada kita di mana orang semua sibuk, mereka tidak bertatapan, masing-masing sibuk senidiri, hal-hal yang kecil itu menjadi suatu mosaik yang akhirnya saya simpulkan menjadi I Love You New York.” Tutur Toeti Heraty.

Hutan Beton dan Buckninster Fuller

Bagi seorang Gerson Poyk kenangannya tentang New York berpadu antara cita rasa seni dan hutan beton. Ia tinggal di lantai 30, tidur melayang-layang di angkasa. Kemudian ada jendela kaca yang menakutkan, melalui jendela kaca itu ia melihat liang-liang yang melayang di seberang. “Saya bilang ke teman bule yang sekamar dengan saya, kalau ada tembakan dari tetangga sebelah kita akan mati, tapi teman saya bilang, kita yang tembak dia duluan.” Kemudian Gerson berjalan-jalan di Cenyrak Park, lalu jalan kaki ke United Nation, dari sana ia menuju ke Twin Tower, dan disambut oleh patung Bush dan Gerbachev. “Saya duduk di tengah-tengah dan memeluk leher mereka, lalu saya minta tolong orang memotret saya, tapi sayang, fotonya rusak karena ternyata klisenya sudah terpakai. Lalu saya naik lift Twin Tower, saat pintu dibuka ada tulisan selamat datang pakai bahasa Indonesia, saya terkejut, ternyata tulisan itu disebabkan karena Indonesia termasuk bangsa terbesar keempat di dunia. Lalu saya melihat gambar Buckninster Fuller, saya pernah bertemu dia di Bali dan kita ke Ubud bersama. Di Ubud saya tunjukan kliping satu bundle tulisan tentangnya. Dia bilang it’s enough for you. Dan saya akhirnya melihat gambarnya yang besar di Twin Tower, saya ingat pertemuan dengan dia di Ubud Bali, ternyata dia orang besar. Lalu saya bertemu juga dengan turis Jepang dan Jerman, saya menganggap diri saya orang yang paling kaya di dunia ini ( waktu itu saya pakai dasi) karena bisa bertemu dengan orang-orang kaya di New York, tapi saya takut juga, kalau ada bom saya bisa mati. Kemudian saya turun dari gedung kembar itu, saya mampir di sebuah restoran milik orang Indoneisia yang menjual risjtaffel, saya makan malam di sana. Malamnya saya pulang naik kereta. Tahun itu juga, saya merayakan di New York bersama Pak Yop Ave. pada tahun 1991, saya kembali ke Amerika, namun kali itu saya pergi ke New Orleans. Banyak kenangan yang membekas di benak saya selama mengikuti International Writing Program di IOWA, Amerika. Dari Amerika saya menghasilkan novel Sang Guru, banyak puisi, yang saya tulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Yang terpenting, dari IOWA saya beli setumpuk buku filsafat dan sastra. Buku-buku itulah yang membuat saya pintar.” Ujar Gerson sembari terkekeh. 

Depok, 19 September 2013

RATRI:Nung Bonhnm Orang Ponorogo

Nung Bonhnm Orang Ponorogo yang sastrawan

Nung Bonham, lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 12 Maret 1981. Alumnus Fakultas Seni Rupa Istitut Seni Indonesia, Yogyakarta, sekarang bekerja di sebuah PT Swasta di kota Kudus, Jawa Tengah. Hobi seni rupa, musik & sastra.

Pernah menjadi vokalis di The Siement Band di Ponorogo Jawa Timur dan Swaravatu Band di Jogjakarta. Karya-karyanya sebagian tampil di akun Facebook. Sekarang aktif menulis, menggambar, dan melukis. email: nung_sastronegoro@yahoo.com

Berikut karya puisinya

RATRI

agungira yekti den tresnani dhakah titah
na kekepmu ana kang anggung eling
dhakah uga kang supe prenah panembah

semana uga kalawan amba
; estu amba sih mring ndika
sabab mami kuwawi kanthi sayekti
nggarap raos reraosaning bathos
jroning eningmu kang ngemu wisik maewu

o ratri, na kekepira yekti tuwajuh sukengkapti
tumprap kang remen cegah nendra
guna hatur syukur miwah astuti mring Jawata

o ratri, cengkremira estu harsana uga
tumprap kang dhemen ethok -ethok supe
lamun rat menika mung semu sanyatane

Kudus 2009

-berikut terjemahan dalam bahasa Indonesia

MALAM

Keagunganmu nyata dicintai banyak orang
didekapmu ada yang selalu ingat
banyak pula yang lupa arah kiblat

begitu juga denganku
; betapa aku mencintaimu
karena aku bisa dengan khidmat
mengolah rasa rerasanan hatiku
dalam keheninganmu yang simpan ilham beribu

o malam, dipelukmu sungguh nikmatnya
bagi yang suka jaga
untuk ucap syukur dan sembah pada Tuhan

o malam, rengkuhanmu nikmat pula
bagi yang suka berpura lupa
bahwa dunia ini semu belaka
senyata...

PUISIKU III

puisiku, aku tiada benar mengerti
kau bagus, cukup, atau kurang,
konven atau malah picisan

biarlah jika memang demikian
toh setidaknya aku telah berbuat sesuatu
karena aku enggan jadi penikmat melulu

kuakui, aku tiada fasih soal lingustik
apalagi metafora nan pelik lagi cantik
yang barangkali dapat membuatmu lebih menarik

namun, aku ingin terus melahirkanmu
tentunya selaras daya pun seleraku
mengais frasa dan fonis nan manis lagi merdu

Kudus 2009

RUMPAKA ONENG

jroning ening sepining ratri
kang miranti dening jawah
ika rumentah nelesi lemah

asesadhon nta kaloron
saka tebih samya hakaronsih
karahsa asrep rumeseping galih

kalipur sawatara
alur oneng ika nirantra
reridhu manah ndadhu rudhah

o, mangkin rahsa bathin
nandang gering mangunkung
miwah oneng ika kakungkung

Kudus 2009

RUMPAKA ONENG ( translate )

TEMBANG RINDU

dalam hening sepinya malam
yang basah oleh hujan
yang jatuh basahi tanah

berbincang kita berdua
dari jauh saling bermesra
terasa sejuk merasuk hati

terhibur sementara
alur rindu yang tak ada habisnya
goda hati memerah gelisah

o, begini rasa bathin
menderita sakit kasmaran
dan rindu yang terpenjara

POTRET DARI JALANAN

anak-anak kecil dan kumal di perempatan
sontak bergerak ke tengah jalan
tepat saat lampu menyala merah
dengan wajah melas tanganya tengadah

tak hirau resiko yang mengintai
demi perut keselamatanpun terabai
tak di sini tak di sana
pemandangan di prapatan nyaris sama
anak-anak Lazarus terlihat terus
bergerumul digramul lapar dan haus

anak-anak kecil dan kumal di perempatan
terlalu kecil untuk kenal derita
terlalu kecil untuk kenal kerja
terlalu kecil untuk turun ke jalan
bermain dicumbu debu, angin dan hujan,
dicekik terik siang dan dingin malam,
diendus asap dan dengus kendaraan

Kudus 2009

UJUNG RINDU

na ratri ika ening sepi
hwah asrep dene jawah
ika deres nelesi lemah
sedya mami aminursita
arsa raos oneng neng bathos
ika nora punton
nadyan nta kaloron
pun sapatemon asesadhon
samya andum rahsa
ning, meksa oneng nora lina..
duh kanyu ika nana nimna kalbu
sepisan malih reki mami jarwani
oneng niki dereng mari
sasat malah mucuk nggepuk sirah..

UJUNG RINDU

(translate)

di malam yang sepi
dan dingin oleh hujan
yang deras basahi tanah
ingin aku katakan
akan rasa kangen di batin
yang tak berakhir
meski kita berdua
telah jumpa bertukar kata
saling bagi rasa
namun, tetap saja kangen tak sirna
duhai engkau yang dihatiku
sekali lagi kau kuberi tahu
kangen ini belum sembuh
seolah malah memucuk gebuki kepala..

Jakarta, 2009

ROMANTIKA

sering meIintas diingatanku
saat kuremas jarimu sembari mata saling beradu
atau ketika dengan tiba-tiba
kau terkejut oleh dekapku dari belakang
waktu kau asyik membolak-balik buku masakan..
disitu, sebuah mall mewah
yang entah telah memusnah brapa petak sawah dan rumah

sayang, kenangan itu kerap datang
gamblang menayang depan pandang
seolah menatap layar tancap
bikin dadaku ma' tratab-tratab
;teringat kamu..

Kudus 2009
Nung Bonhnm Orang Ponorogo yang sastrawan 

Nung Bonham, lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 12 Maret 1981. Alumnus Fakultas Seni Rupa Istitut Seni Indonesia, Yogyakarta, sekarang bekerja di sebuah PT Swasta di kota Kudus, Jawa Tengah. Hobi seni rupa, musik & sastra.

Pernah menjadi vokalis di The Siement  Band di Ponorogo Jawa  Timur dan Swaravatu Band di Jogjakarta. Karya-karyanya sebagian tampil di akun Facebook. Sekarang aktif menulis, menggambar, dan melukis. email: nung_sastronegoro@yahoo.com

Berikut karya puisinya




RATRI

agungira yekti den tresnani dhakah titah
na kekepmu ana kang anggung eling 
dhakah uga kang supe prenah panembah

semana uga kalawan amba
; estu amba sih mring ndika
sabab mami kuwawi kanthi sayekti
nggarap raos reraosaning bathos
jroning eningmu kang ngemu wisik maewu

o ratri, na kekepira yekti tuwajuh sukengkapti
tumprap kang remen cegah nendra
guna hatur syukur miwah astuti mring Jawata

o ratri, cengkremira estu harsana uga
tumprap kang dhemen ethok -ethok supe
lamun rat menika mung semu sanyatane

Kudus 2009

-berikut terjemahan dalam bahasa Indonesia

MALAM

Keagunganmu nyata dicintai banyak orang
didekapmu ada yang selalu ingat
banyak pula yang lupa arah kiblat

begitu juga denganku
; betapa aku mencintaimu
karena aku bisa dengan khidmat
mengolah rasa rerasanan hatiku
dalam keheninganmu yang simpan ilham beribu

o malam, dipelukmu sungguh nikmatnya
bagi yang suka jaga
untuk ucap syukur dan sembah pada Tuhan

o malam, rengkuhanmu nikmat pula
bagi yang suka berpura lupa
bahwa dunia ini semu belaka
senyata...

PUISIKU III

puisiku, aku tiada benar mengerti
kau bagus, cukup, atau kurang,
konven atau malah picisan

biarlah jika memang demikian
toh setidaknya aku telah berbuat sesuatu
karena aku enggan jadi penikmat melulu

kuakui, aku tiada fasih soal lingustik
apalagi metafora nan pelik lagi cantik
yang barangkali dapat membuatmu lebih menarik

namun, aku ingin terus melahirkanmu
tentunya selaras daya pun seleraku
mengais frasa dan fonis nan manis lagi merdu

Kudus 2009

RUMPAKA ONENG

jroning ening sepining ratri
kang miranti dening jawah
ika rumentah nelesi lemah

asesadhon nta kaloron
saka tebih samya hakaronsih
karahsa asrep rumeseping galih

kalipur sawatara
alur oneng ika nirantra 
reridhu manah ndadhu rudhah

o, mangkin rahsa bathin
nandang gering mangunkung
miwah oneng ika kakungkung

Kudus 2009

RUMPAKA ONENG ( translate )

TEMBANG RINDU

dalam hening sepinya malam
yang basah oleh hujan
yang jatuh basahi tanah

berbincang kita berdua
dari jauh saling bermesra
terasa sejuk merasuk hati

terhibur sementara
alur rindu yang tak ada habisnya
goda hati memerah gelisah

o, begini rasa bathin
menderita sakit kasmaran
dan rindu yang terpenjara

POTRET DARI JALANAN

anak-anak kecil dan kumal di perempatan
sontak bergerak ke tengah jalan 
tepat saat lampu menyala merah
dengan wajah melas tanganya tengadah

tak hirau resiko yang mengintai
demi perut keselamatanpun terabai
tak di sini tak di sana
pemandangan di prapatan nyaris sama
anak-anak Lazarus terlihat terus
bergerumul digramul lapar dan haus

anak-anak kecil dan kumal di perempatan
terlalu kecil untuk kenal derita 
terlalu kecil untuk kenal kerja
terlalu kecil untuk turun ke jalan
bermain dicumbu debu, angin dan hujan,
dicekik terik siang dan dingin malam,
diendus asap dan dengus kendaraan

Kudus 2009

UJUNG RINDU

na ratri ika ening sepi
hwah asrep dene jawah
ika deres nelesi lemah
sedya mami aminursita
arsa raos oneng neng bathos
ika nora punton
nadyan nta kaloron
pun sapatemon asesadhon
samya andum rahsa 
ning, meksa oneng nora lina..
duh kanyu ika nana nimna kalbu
sepisan malih reki mami jarwani
oneng niki dereng mari
sasat malah mucuk nggepuk sirah..

UJUNG RINDU

(translate)

di malam yang sepi
dan dingin oleh hujan
yang deras basahi tanah
ingin aku katakan
akan rasa kangen di batin
yang tak berakhir
meski kita berdua
telah jumpa bertukar kata
saling bagi rasa
namun, tetap saja kangen tak sirna
duhai engkau yang dihatiku
sekali lagi kau kuberi tahu
kangen ini belum sembuh
seolah malah memucuk gebuki kepala..

Jakarta, 2009

ROMANTIKA

sering meIintas diingatanku
saat kuremas jarimu sembari mata saling beradu 
atau ketika dengan tiba-tiba
kau terkejut oleh dekapku dari belakang
waktu kau asyik membolak-balik buku masakan..
disitu, sebuah mall mewah
yang entah telah memusnah brapa petak sawah dan rumah

sayang, kenangan itu kerap datang
gamblang menayang depan pandang
seolah menatap layar tancap
bikin dadaku ma' tratab-tratab
;teringat kamu..

Kudus 2009

Buka Pintu Hatimu, Nyimas Hilmiyati ,...

Buka Pintu Hatimu, Nyimas Hilmiyati ,...

Aku akan tetap disini menunggumu,

sampai kau membukakan pintu hatimu.

Pintu hatimu yang teramat kokoh dan sulit untuk kubuka.

Seberapa kuatkah pintu hatimu terbuat?

Seberapa besarkah perhatianmu padaku?

Aku mencoba mengetuk pintu hatimu,

pintu hatimu yang begitu angkuh,

pintu hatimu yang penuh dengan keegoanmu.

Aku akan tetap disini menunggumu,

sampai kau membukakan pintu hatimu,

Untukku…

Puisi Anny Djati, Puisi Cinta

Puisi Anny Djati, Puisi Cinta

Sebenarnya aku ingin menulis puisi cinta untukmu
Tapi aku tak tahu huruf apa yang akan kutuliskan di awal
Kupikir huruf C di awal kata cinta
Tapi ketika kutulis huruf C
Aku tak menemukan apa-apa

Huruf apa yang harus kutulis untuk puisi cintamu
Kucari... Kucari di lembaran-lembaran halaman Google
Mungkin terselip huruf awal kata cinta
Tapi aku tidak menemukan apa-apa

Kemana harus kucari huruf awal kata cinta
Halaman kertasku tetap putih kosong
Aku tak tahu huruf apa dari awal kata cinta
Aku tak menemukan apa-apa

Sebenarnya....
Sebenarnya aku tak ingin menulis puisi cinta untukmu

Sepi Sedawaning Wengi: Riswo Mulyadi

Sepi Sedawaning Wengi

tengah wengi, atis tekan ros-rosan driji
inyong ndhikekel neng padon senthong
ngeloni kampil pating clenah mambu iler
sikil dibrongkos kasut
utek pating krembut ngangen-angen kepenginan ora sumbut

lawang tek cengkal kambi alu
wedi sinawa wewe gombel mlebu

wengi sengsaya sepi
kokok beluk ngundang-ngundang sekang pucuk wringin kurung pinggir dalan
nambahi angkere wengi
atiku mblayang separan-paran
ngiderii langit

langit mosak-masik
tek ubek-ubek sedawaning wengi
sapa ngerti
sliramu kang ginambar lamuk kang lumaku
sajeroning impenku

Cilangkap, 01 Oktober 2013

PUISI ALAM INDAH TIADA HENTI.: Penyair Tengger

PUISI ALAM INDAH TIADA HENTI.

Ladang kuperluas, padang kukitari.
Bukit-bukit kukunjungi, lembah kujelajah.
Dasar jurang kusapa, sampai pada airterjunnya.
Kubaca puisi-puisinya . . .

Sejauh mana 'ku mengenal, 
tak sejauh puisi alam menghampar.

Sejauh ini saja, telah membuat jalanku terhuyung.
Napas tersengal . , sambung-menyambung tersendat.
Betapa puisi alam indah tiada henti . . .

Kupandang sebelah utara, laut menghampar luas.
Tak banyak puisi-puisinya terbaca.
Kutoleh selatan . . , gunung Semeru tiada henti berpuisi.
Sedikit pula, kemampuan membaca . . .

Maafkan aku sobat, tak banyak bisa kuperbuat

AKU AKAN TERUS MENJADI PECINTA oleh Roosetindaro Baracinta (Catatan) pada 15 Juli 2012 pukul 0:43



Diana Roosetindaro Penyair Muda berbakat

AKU AKAN TERUS MENJADI PECINTA

oleh Roosetindaro Baracinta (Catatan) pada 15 Juli 2012 pukul 0:43

Dalam keeheningan malam yang banyak menyimpan misteri
aku tanyakan pada remnbulan, apa yang mesti diperbuat
ketika tangan sang hidup campakkan aku ke dalam tong sampah di ujung gang
mestikah menangis atau tertawa?
kenyatannya aku telah menangis dalam tawa
dan kehidupan telah mempermainkan hati kita
namun, cinta tak akan pernah hilang
karena cinta ada dimana-mana
dia ada di pepohonan, di bebatuan, di langit, di bumi, di air, diudara
di dalam setiap jiwa yang hidup dan mati
cintaMu......cintaku,,,,cinta kita
bagai busur dengan anak panahnya
bagai laut dengan pantai
bagai siang dengan malam
haruskah kita kalah ketika badai menerpa?
tidak, berjuta badai tak akan sanqgup memporakporandakan
kekuatan cinta kita
walau mereka berontak tapi kita akan tetap bersama
menyatu.....bercinta........dan kemudian melahirkan anak-anak kehidupan
anak-anak kehidupan cermin dari
cinta kasih kita
tak akan ada yang sanggup membunuh cinta
karena cinta tak pernah mati......
Cinta akan senantiasa tumbuh bersemi
dia akan bersemayam di lubuk hati bagi yang hidup dan bagi yang mati
biarkan kita menjadi bagian dari cinta
karena sesungguhnya, hati kita.....jiwa kita.......pikiran kita......setiap bagian tubuh..............
adalah potongan-potongan dari cinta itu sendiri
 — bersama Roosetindaro Baracinta.

Puisi-puisi Cunong Nunuk Suraja PUISI MIMPI PENYAIR (1)


mimpi apakah yang terselip di gigi puisi dan menanyakan warung puisi mana yang telah tandas kau kudap semalaman bersama penyair yang tanpa busana puisi mimpi menjadi pengantin membimbing ke pelaminan menciptakan mimpi panjang yang tak usai hingga dini hari menyeringai puisi mimpi menunjuk dan menuntut judul penyair yang lupa bermimpi puisi mimpi sepi kenangan di hotel merekam sunyi meruncing diujung bait puisi-puisi mimpi seperti mimpi para penyair yang pingin menerbitkan buku puisi-puisi mimpi membuat bangun penyairnya untuk meyakini puisinya tertinggal di alam mimpi puisi mimpi kursi menjadikan penguasa bernmimpi tentang kursi kekuasaan puisi mata penyair mata mimpi menuliskan puisi di alam mimpi puisi pulang pagi mengantongi segala mimpi penyair yang kemalaman di jalanan terbaring diam di undakan trotoar

(2)

bicaralah dengan mimpi pada puisi yang di kantong penyair yang mengunyah puisi mimpi yang terselip di gigi puisi dan menanyakan warung puisi mana yang telah tandas kau kudap semalaman bersama penyair yang tanpa busana puisi mimpi menjadi pengantin membimbing ke pelaminan menciptakan mimpi panjang yang tak usai hingga dini hari menyeringai puisi mimpi menunjuk dan menuntut judul penyair yang lupa bermimpi puisi mimpi sepi kenangan di hotel merekam sunyi meruncing diujung bait puisi-puisi mimpi seperti mimpi para penyair yang pingin menerbitkan buku puisi-puisi mimpi membuat bangun penyairnya untuk meyakini puisinya tertinggal di alam mimpi puisi mimpi kursi menjadikan penguasa bernmimpi tentang kursi kekuasaan puisi mata penyair mata mimpi menuliskan puisi di alam mimpi puisi pulang pagi mengantongi segala mimpi penyair yang kemalaman di jalanan terbaring diam di undakan trotoar pada sisa-sisa usia kusiasati segala rupa rasa hanya padaMu semata senantiasa memburu mimpi puisi penyair kalang kabut tersudut di rumput menjumput sisa kenangan yang terselip di bayang lindap reumputan rebah catatan demi catatan meleleh dalam mimpi penyair yang kehilangan imajinasi biar biar mimpi berserakan seperti tulang belulang tanpa arti kini tinggal kau yang memaknai puisi itu mimpi atau imajinasi maka kalau masih meremehkan imajinasi dan menyingkirkan mimpi pasti tidak akan terjadi puisi yang berisi

(3)

senantiasa mengharap-harap senantiasa menyilang reka di kembara yang kian menuju dusta roti dan puisi dapat menjadi basi hidup dalam lingkaran makin berpusingan menuju entah lelaki selalu memburu celah-celah yang tak terjamah gairah menyalakan hidup menunjukkan jalan yang banyak pilihan dosa buah yang akan masak nanti di hari pengadilan bersebadanlah sehingga kau menjadi pasangan lahir batin

Aku yang mu: Abeeq Musanggeni

Aku yang mu

Hanyalah setubuhku atas meja bawahnya, menarikan jemari pada dada putih langsat akan semua indah yang kau miliki.
dan setubuhku adalah setubuh yang lunta padanya, dan membwa peluh pada tanganku dalam indahmu

Ego aku keluar.secara tiba tiba : Penyair Terlarang

yogyakarta.09102013

ego aku keluar.secara tiba tiba
melihat filem suneteron bersambung.
padahal filem suneteron masih seru.
untuk di nikmati aku.:
yang lagi beradu.
pake jemari bersuit segala.
mencari yang kalah siapa?
mencari yang menag siapa?
yang kalah itu menang
bukan ber arti menang.
yang menang itu kalah
bukan ber bar arti kalah.

suneteron masih berlanjut.lusa

Gema : Penyair Tengger

 G E M A .

Lamat-lamat suara radio tua diperdengarkan dari jauh.
Dalam suara serak tersendat, dipaksa menyampai pada sekitar.
Sampaikan lagu tua pula, namun pikat segala insan di tiap masa.

Dendangnya riang, undang tubuh gerak, nuansa sentuh . . .
Sentuh kedalam, dalam sekali, hingga selusup relung-relung hati.
Mengusap dinding-dindingnya sehalus sentuh nuansa kalut.
Hanyutkan pada gelap pekat rimba belantara memendam misteri.
Siapa tahu . . , tak pernah tahu, takkan pernah ada yang tahu.
Dalam hati ini sering berdenyut, kali ini tersentak ingat kembali.

Saat-saat akhir, tak lama selang bertemu, setelah lama sulit bertemu.

Kacau . . , hatiku kacau.
Kisah itu betapa buat aku merasakan penyesalan tiada tara.

Angin kencang menghalau suara radio, walau lagu telah lama berganti.
Tetap saja, aku rasakan penyesalan tiada tara

BUNTU : Ilham Pujangga

BUNTU

Otakku enggan berpikir
Malas tuk mengolah kata
Lelah tuk mengatur
Pusing tuk mengukir

Ahh....
Apakah yang sedang terjadi dengan otakku ini??
Bergumpal darah di ubun-ubun
Berdenyut nadi yang mengalir

Membawa pikiranku melayang tak karuan
Dalam penat yang menikam sunyiku
Di sudut malam dalam lamunan
Otakku masih enggan mengolah kata

Apakah gerangan ini??
Seluruh ragaku kaku bagai terpaku
Bisu seribu kata
Dalam ning ragaku terdiam sejenak

Buntu,,,,,
Itulah sepertinya yang sedang terjadi

JAMBI, 17 okt 2013

Dan.. langitpun meledakkan amarahnya pada seisi perut Bumi..: D.VALENTINO.

GP,19 10'13..

Dan.. langitpun meledakkan amarahnya pada seisi perut Bumi..
Menggelegar.. serasa menikam jantung hati..

Di muntahkannya Tirta pada Tanah kering bebatuan tuk berbagi kesedihan..
Agar ikut merasai tentang apa itu duka..
Ia tumpahkan semua dukanya..
Maka Bumi pun bercerita..
Tentang ARTI sebuah KEIKHLASAN..
Yang mampu memberi ataupun menerima..

Saling berbagi tentu itu yang di inginkan..
Saling merasakan.. tentu itu yang di harapkan..
Susah senang bersama.. memikul beban..

Maka..

Yang kaya jangan jadi sombong..
Yang miskin jangan pesimis hati..

Terus berusaha.. untuk melangkah ke depan..
Dan syukuri nikmat dengan seadanya..

_D.VALENTINO.