Sabtu, 19 Oktober 2013

Puisi-puisi Cunong Nunuk Suraja PUISI MIMPI PENYAIR (1)


mimpi apakah yang terselip di gigi puisi dan menanyakan warung puisi mana yang telah tandas kau kudap semalaman bersama penyair yang tanpa busana puisi mimpi menjadi pengantin membimbing ke pelaminan menciptakan mimpi panjang yang tak usai hingga dini hari menyeringai puisi mimpi menunjuk dan menuntut judul penyair yang lupa bermimpi puisi mimpi sepi kenangan di hotel merekam sunyi meruncing diujung bait puisi-puisi mimpi seperti mimpi para penyair yang pingin menerbitkan buku puisi-puisi mimpi membuat bangun penyairnya untuk meyakini puisinya tertinggal di alam mimpi puisi mimpi kursi menjadikan penguasa bernmimpi tentang kursi kekuasaan puisi mata penyair mata mimpi menuliskan puisi di alam mimpi puisi pulang pagi mengantongi segala mimpi penyair yang kemalaman di jalanan terbaring diam di undakan trotoar

(2)

bicaralah dengan mimpi pada puisi yang di kantong penyair yang mengunyah puisi mimpi yang terselip di gigi puisi dan menanyakan warung puisi mana yang telah tandas kau kudap semalaman bersama penyair yang tanpa busana puisi mimpi menjadi pengantin membimbing ke pelaminan menciptakan mimpi panjang yang tak usai hingga dini hari menyeringai puisi mimpi menunjuk dan menuntut judul penyair yang lupa bermimpi puisi mimpi sepi kenangan di hotel merekam sunyi meruncing diujung bait puisi-puisi mimpi seperti mimpi para penyair yang pingin menerbitkan buku puisi-puisi mimpi membuat bangun penyairnya untuk meyakini puisinya tertinggal di alam mimpi puisi mimpi kursi menjadikan penguasa bernmimpi tentang kursi kekuasaan puisi mata penyair mata mimpi menuliskan puisi di alam mimpi puisi pulang pagi mengantongi segala mimpi penyair yang kemalaman di jalanan terbaring diam di undakan trotoar pada sisa-sisa usia kusiasati segala rupa rasa hanya padaMu semata senantiasa memburu mimpi puisi penyair kalang kabut tersudut di rumput menjumput sisa kenangan yang terselip di bayang lindap reumputan rebah catatan demi catatan meleleh dalam mimpi penyair yang kehilangan imajinasi biar biar mimpi berserakan seperti tulang belulang tanpa arti kini tinggal kau yang memaknai puisi itu mimpi atau imajinasi maka kalau masih meremehkan imajinasi dan menyingkirkan mimpi pasti tidak akan terjadi puisi yang berisi

(3)

senantiasa mengharap-harap senantiasa menyilang reka di kembara yang kian menuju dusta roti dan puisi dapat menjadi basi hidup dalam lingkaran makin berpusingan menuju entah lelaki selalu memburu celah-celah yang tak terjamah gairah menyalakan hidup menunjukkan jalan yang banyak pilihan dosa buah yang akan masak nanti di hari pengadilan bersebadanlah sehingga kau menjadi pasangan lahir batin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar