Fireflies In Manhattan
Kisah Proses Kreatif Para Penulis Indonesia Selama di Amerika
Oleh : Fanny J. Poyk
Nuansa Amerika sedikit terasa ketika Talk Show & Reading Literary Gems with a Selection of Legendary Indonesian Authors yang berlangsung di Pacific Place, Jakarta, tepatnya di @America pada 18 September 2013 malam. Pemeriksaan superketat dengan metal detektor disertai dengan penitipan tas pada box-box yang sudah disediakan, mencerminkan ‘rasa’ Amerika kian terasa, terroris dan segala macam ancaman yang membahayakan yang selama ini ditakutkan, memang diantisipasi secara sistematis. Pembicara malam itu adalah Bondan Winarno, Goenawan Mohamad, Toeti Heraty dan Yus Kayam (isteri sastrawan Umar Kayam).
Selain untuk mengenang kembali kiprah Umar Kayam di dunia sastra melalui memori yang disampaikan sang isteri, Yus Kayam, dari judul di atas; yaitu Fireflies in Manhattan juga mengetengahkan beragam kenangan para penulis sekaligus penyair yang pernah tinggal di Amerika, seperti Gerson Poyk, Leon Agusta, dan para pembicara, sekaligus mengisahkan bagaimana proses kreatif mereka dalam menulis selama berada di sana. Forum diskusi yang diselingi dengan pembacaan puisi tentang keindahan kota New York, disampaikan oleh para pembicara. Acara juga diselingi dengan penampilan Khrisna Pabichara yang puisi Subagio Sastrowardoyo (Among Skyscrapers) dan cerpen karya Umar Kayam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, serta tanya jawab dari para peserta.
Keempat pembicara mengisahkan kenangannya tentang New York, Yus kayam misalnya, ia mengaku tidak menulis cerpen, namum sepanjang hidupnya sejak tahun enam puluhan ia menemani sang suami Umar Kayam belajar di sana. New York telah memberikan kesan tersendiri bagi dirinya dan keluarga, anak-anak mereka dilahirkan di sana, dan ia tahu cerpen Umar Kayam, Kunang-Kunang di Manhattan yang legendaris itu merupakan bagian dari kisah yang dipantau sang suami tentang beragam kisah yang terjadi di New York dan Manhattan. “Yang membuat saya sedih saat kami menempati apartemen adalah jika ada pengumuman yang menyatakan tidak boleh ada suara gonggongan anjing dan suara berisik anak kecil,” ujarnya sembari tersenyum.
Penerbang Amerika
Sedangkan Bondan Winarno, mengungkapkan bahwa selama ini dirinya tak pernah dianggap sebagai cerpenis. Ia lebih dikenal sebagai seorang presenter kuliner. Bondan mengaku, meski ia menulis lebih dari 40 cerita pendek dan 10 di antaranya ia tulis selama di Amerika, ia tak pernah diakui sebagai seorang cerpenis. “Karena kecewa, saya lalu menjadi presenter TV, dan lebih dikenal orang,” tawanya. Namun yang menurutnya lebih menarik adalah proses kreatif bagaimana sebuah cerita pendek dilahirkan. Cerpen Bondan yang berjudul John Charles Showered yang dimuat di dalam Manhattan Sonnet, itu sebetulnya bukan fiksi namun kisah sebenarnya. “Saat itu saya menjadi redaktur pelaksana di Majalah Mutiara, saya melihat ada seorang gembel yang sangat bau yang mengaku sebagai penerbang Amerika yang dikirim ke Indonesia, kemudian tertembak di Sumatera. Saya mengetesnya dengan berbahasa Inggris, banyak pertanyaan yang saya ajukan, namun jawabannya tidak meyakinkan. Orang itu menangis dan ingin kembali ke Amerika. Lalu saya membawanya ke Kedutaan Amerika, di sana saya ditertawai oleh sang Konsul Amerika. Setelah diamati diam-diam, ternyata orang itu memang gembel yang memiliki masalah psikologis dan tinggal di Senen. Itulah yang kemudian saya jadikannya cerpen. Hampir semua cerpen saya ada ceritanya. Itu mungkin yang membuat saya tidak dianggap sebagai cerpenis. Banyak kejadian-kejadian di Amerika yang kemudian menjadi cerpen. Contohnya Rudy and Us, Amnesti, Doa Seorang Perawan yang saya buat saat perang di Bosnia.” Terangnya.
Tragedi Sebelas September
Pada kesempatan yang sama Goenawan Mohamad menuturkan, beberapa kali ia ke Amerika ada dua kejadian yang baginya sangat penting, pertama saat ia melihat tembok Berlin diruntuhkan dan orang-orang Berlin Timur bersorak-sorai merayakan kemerdekaan mereka, “saya melihat dari kamar saya di Harvard, saya merasa bahwa dengan runtuhnya tembok itu dunia menjadi lebih baik, ada harapan perdamaian karena ketegangan Uni Soviet dan Amerika menjadi reda. Kiamat seolah-olah dimundurkan, tapi di balik itu semua juga ada rasa bangga orang Amerika bahwa sebetulnya pihak Amerika menang dan Rusia kalah. Saya tidak begitu menyukai kebanggaan ini karena bagi saya yang penting adalah perdamaian, bukan siapa yang menang. Kedua tanggal 11 September, saya ada di New York dalam perjalanan ke Seatle untuk menulis opera yang dipentaskan di sana bersama seorang komponis Indonesia dan Amerika. Di New York kejadian itu terjadi, gedung Twin Towers mula-mula satu diserang, kemudian kedua, saya tidak melihat menit demi menit, namun jika kita melihat di televisi seperti film malapetaka. Berada di sana lebih mengerikan karena kita bisa merasakan bau dari keruntuhan itu. Malam itu bulan September, saya mencoba menjadi reporter dan berjalan menuju ke tempat kejadian, saya berjalan ke Ground zero dan lampu semua mati, saya melihat bagaimana seolah suasana perang terjadi. Tentu saja saya tidak bisa masuk ke dalamnya. Saya melihat bagaimana menara itu runtuh, mengerikan, kemudian saya masuk ke Washington Square, begitu banyak orang yang berdukacita. Ada satu tulisan dan ditempelkan di satu kawat yang katanya dari Nelson Mandela (tapi saya rasa bukan). Katanya, ‘yang menakutkan bukanlah bahwa kita lemah, tapi bahwa kita merasa benar dan merasa kuat.’ Bagi saya itu menyentuh sekali, karena suasana waktu itu tiba-tiba berbalik, solidaritas antar manusia, antar bangsa tiba-tiba menjadi nasionalisme juga kemampuan televisi menyiarkannya dengan judul America under Attack. Orang mengatakan ini Pearl Harbour kedua, namun bagi saya ini tidak benar, sebab serangan 11 September bukan serangan negeri lain, ini juga bukan serangan pertama pada tanah Amerika, karena sebelumnya ada bom di Oklahoma. Nah ini nasionalisme yang ditumpangi dengan banyak propaganda, dan Amerika seolah tidak mengakui ini tragedi bersama, ini tragedi dia, yang menjadi patriotisme yang disertai dengan militerisme. Itu salah satu kesan yang mengerikan. Sejak itu sampai sekarang saya tidak pernah menonton penayangan tragedi itu. Saya tidak anti Amerika, tapi saya tidak bisa menerima, apalagi setelah Amerika menyerbu Irak dengan dalih yang omong kosong.” Ucap Goenawan.
I Love you New York
Di kesempatan yang sama Toeti Heraty menuturkan perasaannya tentang New York tatkala ia menulis puisi-puisinya, New York ia nyatakan dengan satu kata yaitu ‘cinta’, ia melihat beragam kejadian yang terjadi dari hal-hal yang kecil. Kata Toeti, “Hal yang membuat saya mencintai New York pertama-tama memang saya nyatakan love dengan gambar jantung, jadi saya kira untuk visualisasi, tapi dengan begitu seakan-akan visualisasi lebih penting daripada isinya. Dan kalau dilihat isinya itu hal yang sepele tapi menarik, misalnya ada orang jualan kembang, dan tidak boleh ditawar, lalu kita senang membeli bunga itu dengan uang saku yang pas-pasan. Kemudian kita mencari makan, trus makanan yang paling murah adalah makanan China, tapi yang paling menyenangkan sesudah makan ada fortune coccies dan di siitu ada tulisan yang sifatnya ramalan, lalu ada orang masuk di dalam kafe, karena tidak punya uang hanya minta satu gelas air putih saja, ini juga hal yang menarik. Saya pernah naik taksi dan mengeluh baru kecopetan, lalu si sopir bilang, ‘kamu boleh nginep di rumah saya hanya saja kamar mandinya tidak ada pintunya’. Kemudian Saya keluar dari gedung opera dan ada yang menegur saya, are you living miss? Maksud saya ya memang saya pulang sebelum opera berakhir, nah dia minta sobekan karcis supaya dengan sobekan karcis itu dia bisa masuk dan menikmati sisa pertunjukkan. Jadi hal-hal itu yang membuat saya melihat kota New York begitu hidup. Tapi dengan hal-hal kecil yang sepele dan mengesankan bahwa keseluruhannya kita melihat nasib orang yang berbeda-beda. Tentu kita juga melihat dipamerkan segala macam kebiasaan-kebiasaan yang menuju ke porno, itu juga karya yang harus diakui, juga ada museum-museum yang memberikan kesejukan kepada kita di mana orang semua sibuk, mereka tidak bertatapan, masing-masing sibuk senidiri, hal-hal yang kecil itu menjadi suatu mosaik yang akhirnya saya simpulkan menjadi I Love You New York.” Tutur Toeti Heraty.
Hutan Beton dan Buckninster Fuller
Bagi seorang Gerson Poyk kenangannya tentang New York berpadu antara cita rasa seni dan hutan beton. Ia tinggal di lantai 30, tidur melayang-layang di angkasa. Kemudian ada jendela kaca yang menakutkan, melalui jendela kaca itu ia melihat liang-liang yang melayang di seberang. “Saya bilang ke teman bule yang sekamar dengan saya, kalau ada tembakan dari tetangga sebelah kita akan mati, tapi teman saya bilang, kita yang tembak dia duluan.” Kemudian Gerson berjalan-jalan di Cenyrak Park, lalu jalan kaki ke United Nation, dari sana ia menuju ke Twin Tower, dan disambut oleh patung Bush dan Gerbachev. “Saya duduk di tengah-tengah dan memeluk leher mereka, lalu saya minta tolong orang memotret saya, tapi sayang, fotonya rusak karena ternyata klisenya sudah terpakai. Lalu saya naik lift Twin Tower, saat pintu dibuka ada tulisan selamat datang pakai bahasa Indonesia, saya terkejut, ternyata tulisan itu disebabkan karena Indonesia termasuk bangsa terbesar keempat di dunia. Lalu saya melihat gambar Buckninster Fuller, saya pernah bertemu dia di Bali dan kita ke Ubud bersama. Di Ubud saya tunjukan kliping satu bundle tulisan tentangnya. Dia bilang it’s enough for you. Dan saya akhirnya melihat gambarnya yang besar di Twin Tower, saya ingat pertemuan dengan dia di Ubud Bali, ternyata dia orang besar. Lalu saya bertemu juga dengan turis Jepang dan Jerman, saya menganggap diri saya orang yang paling kaya di dunia ini ( waktu itu saya pakai dasi) karena bisa bertemu dengan orang-orang kaya di New York, tapi saya takut juga, kalau ada bom saya bisa mati. Kemudian saya turun dari gedung kembar itu, saya mampir di sebuah restoran milik orang Indoneisia yang menjual risjtaffel, saya makan malam di sana. Malamnya saya pulang naik kereta. Tahun itu juga, saya merayakan di New York bersama Pak Yop Ave. pada tahun 1991, saya kembali ke Amerika, namun kali itu saya pergi ke New Orleans. Banyak kenangan yang membekas di benak saya selama mengikuti International Writing Program di IOWA, Amerika. Dari Amerika saya menghasilkan novel Sang Guru, banyak puisi, yang saya tulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Yang terpenting, dari IOWA saya beli setumpuk buku filsafat dan sastra. Buku-buku itulah yang membuat saya pintar.” Ujar Gerson sembari terkekeh.
Depok, 19 September 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar